banner 728x250
Daerah  

“Air Mata di Balik Banteng”: Jeritan Kader Akar Rumput Menggema dari Sidoarjo

SIDOARJO – Di balik kokohnya nama besar PDI Perjuangan, kini terselip kisah getir yang tak banyak terlihat di permukaan. Dari ruang-ruang sederhana hingga percakapan sunyi di grup WhatsApp, kegelisahan kader akar rumput perlahan berubah menjadi jeritan yang menuntut untuk didengar.

Kamis (30/4/2026) menjadi hari yang tak biasa. Sejumlah Pengurus Anak Cabang (PAC) berkumpul dalam sebuah diskusi panjang, bukan sekadar membahas strategi, melainkan merajut kembali rasa kebersamaan yang mulai terkoyak. Di ruangan itu, tak hanya argumen yang mengalir, tetapi juga emosi, kenangan, dan luka yang selama ini dipendam.

Cak Kusen, tokoh PAC Candi, menjadi salah satu suara yang paling mewakili kegundahan itu. Dengan mata yang tak bisa menyembunyikan kepedihan, ia mengisahkan perjalanan panjangnya bersama partai.

“Kami ini bukan sekadar pengurus. Kami adalah saksi hidup perjalanan partai ini. Dari masa sulit hingga masa kejayaan, kami tetap berdiri. Tapi hari ini, kami seperti tak lagi dianggap,” ujarnya lirih.

Rencana perombakan struktur yang mengatasnamakan regenerasi menjadi titik api. Bagi para kader lama, ini bukan sekadar perubahan organisasi, ini terasa seperti penghapusan jejak, seolah pengabdian puluhan tahun bisa digantikan dalam sekejap tanpa penghargaan.

“Kami tidak menolak anak muda. Generasi Z adalah harapan. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk menyingkirkan mereka yang sudah lebih dulu berjuang. Ini soal rasa, soal penghormatan,” lanjutnya.

Keresahan itu kian membesar setelah beredarnya informasi di WAG yang menyebutkan adanya langkah-langkah sepihak dari KSB DPC PDI Perjuangan Sidoarjo. Tanpa kejelasan, tanpa ruang dialog yang cukup, kader di tingkat bawah merasa ditinggalkan.

Namun, di tengah rasa kecewa, para PAC tidak memilih diam.

Mereka sepakat untuk membawa suara ini ke tingkat yang lebih tinggi, meminta penjelasan langsung kepada DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. Harapan mereka sederhana: keadilan, keterbukaan, dan penghargaan atas pengabdian.

Tak hanya itu, sebuah langkah berani juga mulai disiapkan. Rencana audiensi dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sidoarjo mencuat sebagai bentuk kepedulian terhadap transparansi, menyusul dugaan penolakan laporan Bantuan Politik (BANPOL) tahun 2025.

Mas Eko dari PAC Sidoarjo Kota menyampaikan dengan tegas, namun penuh tanggung jawab, bahwa langkah ini bukan bentuk perlawanan, melainkan panggilan nurani.

“Kami mencintai partai ini. Justru karena cinta itu, kami tidak ingin ada hal yang merusak nama baiknya. Kalau ada yang perlu diluruskan, maka harus diluruskan,” katanya.

Di tengah suasana yang penuh tekanan, suara bijak datang dari Ustadz Gunawan, tokoh PAC Wonoayu. Ia mengajak semua pihak untuk kembali merenungi nilai-nilai yang menjadi fondasi perjuangan partai.

Dengan suara bergetar, ia mengutip pesan dari Soekarno.

“JAS MERAH, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Jangan sampai kita melupakan mereka yang telah membangun rumah ini dari nol. Tanpa mereka, kita tidak akan berdiri hari ini,” tuturnya.

Kini, harapan para kader sederhana namun mendalam: didengar, dihargai, dan diperlakukan adil. Mereka tidak meminta lebih, hanya ingin tetap menjadi bagian dari rumah yang selama ini mereka jaga dengan sepenuh hati.

Di tengah badai yang menerpa, mereka tetap bertahan. Dengan keyakinan bahwa partai ini bukan sekadar organisasi, melainkan keluarga besar yang seharusnya saling merangkul, bukan saling menyingkirkan.

Karena bagi mereka, perjuangan bukan tentang jabatan, melainkan tentang pengabdian yang tak pernah meminta balasan, selain satu hal: dihargai sebagai bagian dari sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *