banner 728x250
Daerah  

Di Ujung Duka Seorang Anak, Hadir Tangan Kasih yang Menguatkan: Kisah Zainur dan Ketulusan Ning Tiwi

Sidoarjo — Di tengah sunyinya sebuah rumah sederhana di Desa Kedungboto, tersimpan kisah pilu yang menggugah nurani. Zainur Roziqin, bocah berusia 11 tahun, harus menerima kenyataan yang begitu berat di usia belianya. Sebuah operasi amputasi telah merenggut salah satu tangannya, mengubah hari-harinya yang dulu penuh tawa menjadi perjuangan yang tak mudah dijalani.

Kini, aktivitas sederhana yang dulu terasa biasa, berubah menjadi tantangan besar. Untuk makan saja, Zainur tak lagi mampu melakukannya sendiri. Namun lebih dari sekadar kehilangan fisik, ada luka batin yang perlahan harus ia pulihkan, tentang menerima keadaan, tentang tetap kuat di tengah keterbatasan.

Di saat itulah, secercah harapan hadir. Sosok penuh empati, Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi, atau yang dikenal luas sebagai Ning Tiwi, datang membawa lebih dari sekadar bantuan. Ia hadir dengan hati yang tulus, menyapa, merangkul, dan menguatkan.

Pada Senin sore, 6 April 2026, Ning Tiwi mengunjungi langsung kediaman Zainur. Tidak ada sekat, tidak ada jarak. Ia duduk bersama keluarga, mendengarkan dengan penuh perhatian, seolah merasakan sendiri beban yang tengah mereka pikul. Tangis haru pun pecah, menjadi bahasa yang tak perlu diterjemahkan, bahwa di tengah kesulitan, mereka tidak lagi sendiri.

Namun kepedulian itu tidak berhenti di sana.

Keesokan harinya, Ning Tiwi kembali hadir, mendampingi Zainur menjalani kontrol kesehatan di Poli Eksekutif RSUD Notopuro Sidoarjo. Sejak langkah pertama memasuki rumah sakit hingga proses pemeriksaan selesai, ia tetap berada di sisi Zainur, memastikan setiap tahapan berjalan dengan baik dan penuh perhatian. Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut, Ketua Sapu Jagad Nusantara Kabupaten Sidoarjo, Edi Susanto, yang juga menunjukkan kepedulian nyata.

Di dalam ruang perawatan, tersaji pemandangan yang begitu menyentuh. Dengan penuh kelembutan, Ning Tiwi menyuapi Zainur yang belum mampu makan sendiri akibat kondisinya pasca operasi. Tindakan sederhana itu menjadi simbol cinta yang begitu dalam, bahwa kasih sayang sejati hadir tanpa pamrih, tanpa melihat siapa dan dari mana.

Yang lebih menggetarkan, semua itu dilakukan Ning Tiwi bukan dalam kondisi terbaiknya. Di tengah kondisi kesehatannya yang masih belum pulih sepenuhnya, ia tetap memaksakan diri untuk hadir, mendampingi, dan memastikan Zainur mendapatkan perhatian yang layak. Baginya, rasa sakit yang ia rasakan seolah tak berarti dibandingkan dengan penderitaan yang dialami Zainur.

Lebih dari itu, Ning Tiwi juga memastikan bahwa Zainur mendapatkan perawatan terbaik tanpa terbebani biaya. Dengan penuh keikhlasan, seluruh biaya kontrol dan pengobatan di RSUD Notopuro Sidoarjo ia tanggung sepenuhnya. Sebuah komitmen nyata yang tidak hanya meringankan beban keluarga, tetapi juga memberikan ketenangan dan harapan baru.

Dalam keterangannya, Ning Tiwi menyampaikan bahwa apa yang ia lakukan adalah panggilan hati sebagai sesama manusia.

“Anak ini butuh kita. Bukan hanya bantuan, tapi kehadiran, perhatian, dan kasih sayang. Selama saya masih diberi kemampuan, saya akan terus berbuat untuk sesama yang membutuhkan, apapun kondisi saya,” tuturnya dengan penuh haru.

Sementara itu, Edi Susanto menegaskan bahwa kepedulian sosial harus menjadi gerakan bersama, bukan sekadar tindakan sesaat.

“Kami ingin memastikan Zainur tidak merasa sendirian. Ini adalah bentuk tanggung jawab kemanusiaan. Apa yang dilakukan Ning Tiwi menjadi teladan bagi kita semua, bahwa kebaikan harus terus berjalan, dalam kondisi apapun,” ujarnya.

Kisah ini menjadi pengingat yang kuat bagi kita semua, bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada hati yang memilih untuk peduli, masih ada tangan yang terulur untuk menguatkan.

Zainur mungkin kehilangan satu bagian dari dirinya, tetapi ia tidak kehilangan segalanya. Ia masih memiliki harapan, masih memiliki masa depan, dan kini ia memiliki orang-orang yang berdiri di sampingnya.

Di tengah luka yang begitu dalam, kasih sayang hadir sebagai penawar. Dan dari sana, perlahan tapi pasti, harapan itu kembali tumbuh, menjadi cahaya yang menerangi langkah kecil seorang anak menuju masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *